Senin, 13 Februari 2017



SEJARAH KLASIFIKASI TUMBUHAN

Oleh :
Ni Made Nita Lestari
1612311004
D3 Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana


ABSTRAK

Cara untuk mempermudah kita dalam mengenali dan mempelajari makhluk hidup disebut Klasifikasi (penggolongan / pengelompokan). Paper ini dibuat bertujuan untuk membantu kita dalam mengetahui jenis-jenis organisme, mengetahui hubungan antar organisme dan mengetahui kekerabatan antar makhluk hidup yang beraneka ragam. Mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan persamaan ciri-ciri yang dimiliki. Mendeskripsikan ciri-ciri suatu jenis makhluk hidup untuk membedakannya dengan makhluk hidup dari jenis yang lain. Misalnya seperti klasifikasi berdasarkan lingkungan hidupnya, seperti tumbuhan air, tumbuhan darat, tu  mbuhan dataran tinggi, tumbuhan dataran rendah, atau berdasarkan kegunaannya seperti tumbuhan sandang, obat-obatan, hias, dan sebagainya.

 Kata kunci : klasifikasi, pengelompokan, tumbuhan

LATAR BELAKANG
Klasifikasi adalah penempatan sebuah kata atau objek tertentu dalam sebuah kelas. Contoh dari klasifikasi adalah sebuah konsep klasifikasi seperti panas atau dingin. Suatu konsep perbandingan, seperti lebih panas atau lebih dingin, mengemukakan hubungan mengenai objek tersebut dalam norma yang mencakup pengertian lebih atau kurang. Kita tidak boleh mengecilkan kegunaan konsep klasifikasi terutama pada bidang-bidang dimana metode keilmuwan dan metode kuantitatif belum berkembang.  Klasifikasi juga dapat berarti usaha menggolong-golongkan segala fase kegiatan dalam sebuah usaha. Dalam pengertian yang lebih sempit maka klasifikasi meliputi usaha mengkategorikan bahan-bahan yang dipakai dalam proses produksi. Adapun alasan orang melakukan klasifikasi ialah agar supaya diketahui dengan pasti fase mana dari kegiatan masuk dalam golongannya, sedang fase lain masuk dalam golongan lain. Disadari orang bahwa klasifikasi itu sangat membantu kelancaran jalannya sebuah usaha atau kegiatan apapun dan memudahkan atau meringankan pekerjaan, baik pelaksana maupun pemberi instruksi. Klasifikasi dapat diartikan sebagai pembentukan kelas-kelas, kelompok, unit, atau takson melalui pencarian keseragaman dalam keanekaragaman. Tujuan klasifikasi adalah untuk menyederhanakan obyek studi.
Klasifikasi dapat membantu kita dalam mengetahui jenis-jenis organisme, mengetahui hubungan antar organisme dan mengetahui kekerabatan antar makhluk hidup yang beraneka ragam.
Perbedaan dasar yang digunakan dalam mengadakan klasifikasi tumbuhan tentu saja memberikan hasil klasifikasi yang berbeda-beda pula, yang dari masa ke masa menyebabkan lahirnya Sistem Klasifikasi yang berlainan. Namun pada prinsipnya, kesamaan-kesamaan atau keseragaman itulah yang dijadikan dasar dalam mengadakan klasifikasi, misalnya klasifikasi berdasarkan lingkungan hidupnya, seperti tumbuhan air, tumbuhan darat, tu  mbuhan dataran tinggi, tumbuhan dataran rendah, atau berdasarkan kegunaannya seperti tumbuhan sandang, obat-obatan, hias, dan sebagainya.

TUJUAN KLASIFIKASI
Tujuan klasifikasi adalah untuk menyederhanakan obyek studi. Klasifikasi dapat membantu kita dalam mengetahui jenis-jenis organisme, mengetahui hubungan antar organisme dan mengetahui kekerabatan antar makhluk hidup yang beraneka ragam. Mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan persamaan ciri-ciri yang dimiliki. Mendeskripsikan ciri-ciri suatu jenis makhluk hidup untuk membedakannya dengan makhluk hidup dari jenis yang lain.

SEJARAH SINGKAT KLASIFIKASI
Sejarah perkembangan sistem Klasifikasi Tumbuhan secara garis besar, perkembagan sitem klasifikasi dari masa ke masa yaitu :
1.    Periode tertua (Prasejarah hingga Abad ke-4 SM)
Secara formal dalam periode ini belum dikenal adanya sistem klasifikasi yang diakui. Namun sejak dulu manusia sudah melakukan kegiatan-kegiatan yang termasuk ruang lingkup taksonomi, seperti mengenali dan memilah-milah tumbuhan yang mana baginya yang berguna dan yang mana yang tidak, termasuk pemberian nama, yang kemudian dikomunikasikan kepada pihak lain. Pada zaman prasejarah orang telah mengenal tumbuh-tumbuhan penghasil bahan pangan yang penting yang kita kenal sampai sekarang.
Jenis-jenis tumbuhan itu diperkirakan telah dikenal sejak 7 sampai 10 ribu tahun yang lalu, telah dubudidayakan oleh bangsa Mesir yang mendiami lembah Sungai Nil bagian hilir di Afrika, bangsa inca di Asia Timur, bangsa Asiria di lembah Sungai Efrat dan Tigris di Timur Tengah, dan bangsa-bangsa Indian di Amerika Utara dan Amerika Selatan. Mereka telah mengenal berbagai jenis tumbuhan yang merupakan penghasil bahan pangan, bahan sandang, dan bahan obat, yang berarti sebenarnya mereka pun telah menerapkan suatu sistem klasifikasi, dalam hal ini suatu sistem klasifikasi yang didasarkan atas manfaat tumbuhan. Oleh karenanya pada periode ini dinamakan Periode Sistem Manfaat, yang dianggap sebagai sistem buatan yang tertua.
2.    Periode Sistem Habitus (± abad ke-4 SM – abad ke-17 M)
Pada periode ini dikenalah ilmu taksonomi tumbuhan sebagai ilmu pengetahuan baru yang dipelopori oleh orang-orang Yunani seperti Theophrastes (370 – 285 SM) murid seorang filsuf yunani Aristoteles. Aristoteles sendiri murid seorang filsuf yunani Plato. Theophrastes mengklasifikasian tumbuhan berdasarkan habitus (perawakan). Sistem klasifikasi yang diusulkan bangsa yunani yang dipelopori Theophrastes ini diikuti oleh kaum herbalis, dan ahli-ahli botani, dan nama itu terus dipakai sampai selama lebih 10 abad.
Pengklasifikasian tumbuhan berdasarkan habitus (perawakan), membagi tumbuhan ke dalam 5 golongan yaitu pohon, perdu, semak, tumbuhan memanjat, dan terna. Theophrastes-lah yang pertama mengelompokan tumbuhan menurut umur yaitu tumbuhan berumur pendek (anual), tumbuhan berumur 2 tahun (bienial), dan tumbuhan berumur panjang (perenial). Beberapa tokoh yang ikut memainkan peran dalam periode ini antara lain yaitu Plinius (23 – 79 M), O.Brunfels (1464 – 1534 M), J. Bauhin (1560 – 1624 M), R. Morison (1620 – 1683).
3.    Periode Sistem Numerik (± awal abad ke-18 M)
Tidak seperti pada periode sebelumnya dimana tumbuhan di klasifikasikan berdasarkan bentuk dlan strukturnya, pada periode ini pengklasifikasian tumbuhan berdasarkan hubungan kekerabatan antara tumbuhan. Pada periode ini tokoh yang paling menonjol adalah Karl Linne (Carolus Linnaeus) (1707 – 1228 M). Dia menciptakan klasifikasi tumbuhan berdasarkan sistem seksual yaitu berdasarkan kesamaan jumlah alat-alat kelamin, antara lain jumlah benang sari seperti Monandria (berbenang sari tunggal), Diandria (berbenang sari dua) Triandria (berbenang sari tiga) dan seterusnya. Itulah sebabnya sistem klasifikasi tumbuhan ciptaan Linnaeus ini dikenal pula sebagai Sistem Numerik.
Linnaeus juga dianggap sebagai pencipta sistem tata nama ganda dalam bukunya Species Plantarum walaupun sebenarnya sistem tata nama ganda tersebut sudah rintis oleh Casper Bauhin dalam bukunya Pinax Theatri Botanici. Tetapi karena mungkin Linnaeus-lah yang pertama seara konsisten menggunakan nama ganda itu untuk jenis tumbuhan dalam bukunya Species Plantarum tadi, nama Bauhin menjadi tersisihkan. Beberapa tokoh-tokoh yang ikut berperan pada periode ini antara lain Peter Kalm (1716 – 1779 M), J.A. Murray (1740 – 1791 M), J. Schultes (1773 – 1831 M).
4.    Periode sistem alam (± akhir abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-19)
Menjelang berakhirnya abad ke-18 mulailah terjadi perubahan-perubahan yang revolusioner dalam pengklasifikasian tumbuhan. Sistem klasifikasi yang baru ini disebut “sistem alam” dalam arti bahwa golongan-golongan yang terbentuk merupakan unit-unit yang wajar (natural) bila terdiri atas anggota-anggota itu, dan dengan demikian dapat tercermin pengertian manusia mengenai yang disebut apa yang dikehendaki oleh alam.
Secara harfiah istilah “sistem alam” untuk aliran baru dalam klasifikasi ini sebenarnya tidak begitu tepat, mengingat sistem yang manapun dengan menerapkan dasar apapun, tetap merupakan ciptaan orang, sehingga pada hakekatnya semua sistem klasifikasi adalah sistem buatan.
Beberapa tokoh yang berperan pada periode ini antara lain J.B. de Lamarck (1744 – 1829 M), orang yang menulis buku Flora Francoise yang ditulis berupa kunci untuk mengidentifikasi tumbuh-tumbuhan di Perancis. Lamarck juga dianggap sebagai salah satu perinti s lahirnya teori evolusi. Teorinya yang dikenal dengan nama “Lamarckisme”, yang menyatakan bahwa perubahan lingkungan dapat mengubah struktur organisme. Tokoh lain seperti Robert Brown (1773 – 1858 M), G. Bentham (1800 – 1884 M), J.D. Hooker (1917 – 1911 M).
5.    Periode sistem filogenetik (pertengahan abad ke-19 hingga sekarang)
Sistem klasifikasi dalam periode ini berupaya untuk mengadakan penggolongan tumbuhan yang sekaligus juga menerminkan urutan-urutan golongan itu dalam sejarah perkembangan filogenetiknya dan dengan demikian juga menunjukkan jauh dekatnya hubungan kekarabatan antara golongan yang satu dengan yang lain. Jadi dalam klasifikasi ini dasar yang digunakan adalah “filogeni” dan dari sini lahirlah nama “sistem filogenetik”. Beberapa ahli taksonomi tumbuhan yang berperan pada periode ini antara lain, Alexander Braun (1805 – 1877 M), A.W. Eihler (1839 – 1887 M), Adolph Engler (1844 – 1930 M), C.E. Bessey (1845 – 1915 M).
6.    Periode sistem klasifikasi kontemporer (abad ke-20)
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat dalam abad ke-20 telah berpengaruh terhadap perkembangan ilmu taksonomi tumbuhan. Kecenderungan untuk mengkuantitatifkan data penelitian dan penerapan matematika dalam pengolahan data yang diperoleh telah menyusup pula ke dalam ilmu-ilmu social yang semula tak pernah atau belum memanfaatkan matematika serta belum mempertimbangkan pula kemungkinan-kemungkinan yang dapat dicapai dengan penerapan pendekatan kuantitatif matematik. Sekarang ada kecenderungan untuk menganggap bahwa penerapan metode kuantitatif sajalah yang dapat menjamin hasil penelitian yang cermat dan dapat diperaya.
Perkembangan teknologi, khususnya di bidang elektronika, yang dalam abad nuklear maju dengan pesat ini, telah pula menjamah bidang taksonomi tumbuhan, yang sejak beberapa dasawarsa belakangan ini juga sudah menerapkan metode penelitian kuantitatif yang pengolahan datanya menggunakan komputer. Dari sinilah melahirkan bidang baru dalam taksonomi tumbuhan yang dikenal sebagai taksonomi numerik, taksometri, atau taksonometri. Pengolahan data secara elektronik juga sudah diterapkan untuk berbagai prosedur dalam penelitian taksonomi.
Taksonomi numerik (dalam arti bukan yang diteorikan oleh Linnaeus) didefinisikan sebagai metode evaluasi kuantitatif mengenai kesamaan atau kemiripan sifat antar golongan organisme, dan penataan golongan-golongan itu melalui suatu analisis yang dikenal sebagai ”analisis kelompok” ke dalam kategori takson yang lebih tinggi atas dasar kesamaan-kesamaan tadi. Peranan komputer adalah untuk mengerjakan perbandingan kuantitatif antara organisme mengenai sejumlah besar ciri-ciri secara simultan. Jadi komputer itu mengambil alih tugas kita dalam melakukan hitungan-hitungan dengan sangat cepat dan tanpa prasangka.
Taksonomi numerik didasarkan atas bukti-bukti fenetik, artinya didasarkan atas kemiripan yang diperlihatkan obyek studi yang diamati dan dicatat, dan bukan atas dasar kemungkinan-kemungkinan perkembangan filogenetiknya. Kegiatan-kegiatan dalam taksonomi numerik bersifat empirik operasional, dan data serta kesimpulannya selalu dapat diuji kembali melalui observasi dan eksperimen.

KESIMPULAN
            Klasifikasi adalah penempatan sebuah kata atau objek tertentu. Klasifikasi tumbuhan merupakan cara untuk memudahkan dalam mengenali dan mempelajari keanekaragaman tumbuhan. Suatu konsep perbandingan, seperti lebih panas atau lebih dingin, mengemukakan hubungan mengenai objek tersebut dalam norma yang mencakup pengertian lebih atau kurang. Kita tidak boleh mengecilkan kegunaan konsep klasifikasi terutama pada bidang-bidang dimana metode keilmuwan dan metode kuantitatif belum berkembang. 
Klasifikasi juga dapat berarti usaha menggolong-golongkan segala fase kegiatan dalam sebuah usaha. Dalam pengertian yang lebih sempit maka klasifikasi meliputi usaha mengkategorikan bahan-bahan yang dipakai dalam proses produksi. Adapun alasan orang melakukan klasifikasi ialah agar supaya diketahui dengan pasti fase mana dari kegiatan masuk dalam golongannya, sedang fase lain masuk dalam golongan lain. Disadari orang bahwa klasifikasi itu sangat membantu kelancaran jalannya sebuah usaha atau kegiatan apapun dan memudahkan atau meringankan pekerjaan, baik pelaksana maupun pemberi instruksi.
Dimana sistem klasifikasi tumbuhan tanpa disadari sudah ada sejak jaman prasejarah mulai dari cara yang sangat sedehana dengan memilah antara tumbuhan yang berguna dan tidak. Pasa abad ke-4 SM hingga abad ke-17 mulai dikenal ilmu taksonomi tumbuhan yang dipelopori orang Yunani yang didasarkan pada habitus (perawakan). Pada awal abad ke-18 tumbuhan mulai diklasifikasikan berdasarkan hubungan kekerabatan antara tumbuhan.

DAFTAR PUSTAKA

Aiqla elyan. 2014. Sejarah Klasifikasi.  Diakses pada 10 Februari 2017-02-12  http://aiqla-elyan07.blogspot.co.id/2014/03/sejarah-klasifikasi.html
Andri Satolom. 2012. Sejarah Perkembangan Klasifikasi Makhluk Hidup. Diakses pada 11 Februari 2017 http://scienceandri.blogspot.co.id/2012/11/sejarah-perkembangan-klasifikasi.html
Dedi Supriyadi. 2010. Sejarah Klasifikasi. Diakses pada 10 Februari 2017  http://dedispd.blogspot.co.id/2010/06/sejarah-klasifikasi.html
      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar