SEJARAH
KLASIFIKASI TUMBUHAN
Oleh
:
Ni
Made Nita Lestari
1612311004
D3
Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana
ABSTRAK
Cara untuk mempermudah kita dalam
mengenali dan mempelajari makhluk hidup disebut Klasifikasi (penggolongan /
pengelompokan). Paper ini dibuat bertujuan untuk membantu kita dalam mengetahui
jenis-jenis organisme, mengetahui hubungan antar organisme dan mengetahui
kekerabatan antar makhluk hidup yang beraneka ragam. Mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan
persamaan ciri-ciri yang dimiliki. Mendeskripsikan ciri-ciri suatu jenis
makhluk hidup untuk membedakannya dengan makhluk hidup dari jenis yang lain. Misalnya seperti klasifikasi
berdasarkan lingkungan hidupnya, seperti tumbuhan air, tumbuhan darat, tu mbuhan dataran tinggi, tumbuhan dataran
rendah, atau berdasarkan kegunaannya seperti tumbuhan sandang, obat-obatan,
hias, dan sebagainya.
Kata kunci : klasifikasi, pengelompokan,
tumbuhan
LATAR
BELAKANG
Klasifikasi adalah
penempatan sebuah kata atau objek tertentu dalam sebuah kelas. Contoh dari
klasifikasi adalah sebuah konsep klasifikasi seperti panas atau dingin. Suatu
konsep perbandingan, seperti lebih panas atau lebih dingin, mengemukakan
hubungan mengenai objek tersebut dalam norma yang mencakup pengertian lebih
atau kurang. Kita tidak boleh mengecilkan kegunaan konsep klasifikasi terutama
pada bidang-bidang dimana metode keilmuwan dan metode kuantitatif belum
berkembang. Klasifikasi juga dapat
berarti usaha menggolong-golongkan segala fase kegiatan dalam sebuah usaha.
Dalam pengertian yang lebih sempit maka klasifikasi meliputi usaha
mengkategorikan bahan-bahan yang dipakai dalam proses produksi. Adapun alasan
orang melakukan klasifikasi ialah agar supaya diketahui dengan pasti fase mana
dari kegiatan masuk dalam golongannya, sedang fase lain masuk dalam golongan
lain. Disadari orang bahwa klasifikasi itu sangat membantu kelancaran jalannya
sebuah usaha atau kegiatan apapun dan memudahkan atau meringankan pekerjaan,
baik pelaksana maupun pemberi instruksi. Klasifikasi dapat diartikan sebagai
pembentukan kelas-kelas, kelompok, unit, atau takson melalui pencarian
keseragaman dalam keanekaragaman. Tujuan klasifikasi adalah untuk
menyederhanakan obyek studi.
Klasifikasi dapat
membantu kita dalam mengetahui jenis-jenis organisme, mengetahui hubungan antar
organisme dan mengetahui kekerabatan antar makhluk hidup yang beraneka ragam.
Perbedaan dasar yang digunakan dalam
mengadakan klasifikasi tumbuhan tentu saja memberikan hasil klasifikasi yang
berbeda-beda pula, yang dari masa ke masa menyebabkan lahirnya Sistem
Klasifikasi yang berlainan. Namun pada prinsipnya, kesamaan-kesamaan atau
keseragaman itulah yang dijadikan dasar dalam mengadakan klasifikasi, misalnya
klasifikasi berdasarkan lingkungan hidupnya, seperti tumbuhan air, tumbuhan
darat, tu mbuhan dataran tinggi,
tumbuhan dataran rendah, atau berdasarkan kegunaannya seperti tumbuhan sandang,
obat-obatan, hias, dan sebagainya.
TUJUAN KLASIFIKASI
Tujuan klasifikasi
adalah untuk menyederhanakan obyek studi. Klasifikasi dapat membantu kita dalam
mengetahui jenis-jenis organisme, mengetahui hubungan antar organisme dan
mengetahui kekerabatan antar makhluk hidup yang beraneka ragam. Mengelompokkan
makhluk hidup berdasarkan persamaan ciri-ciri yang dimiliki. Mendeskripsikan
ciri-ciri suatu jenis makhluk hidup untuk membedakannya dengan makhluk hidup
dari jenis yang lain.
SEJARAH
SINGKAT KLASIFIKASI
Sejarah perkembangan sistem
Klasifikasi Tumbuhan secara garis besar, perkembagan sitem klasifikasi dari
masa ke masa yaitu :
1.
Periode tertua (Prasejarah hingga Abad ke-4 SM)
Secara
formal dalam periode ini belum dikenal adanya sistem klasifikasi yang diakui. Namun
sejak dulu manusia sudah melakukan kegiatan-kegiatan yang termasuk ruang
lingkup taksonomi, seperti mengenali dan memilah-milah tumbuhan yang mana
baginya yang berguna dan yang mana yang tidak, termasuk pemberian nama, yang
kemudian dikomunikasikan kepada pihak lain. Pada zaman prasejarah orang telah
mengenal tumbuh-tumbuhan penghasil bahan pangan yang penting yang kita kenal
sampai sekarang.
Jenis-jenis
tumbuhan itu diperkirakan telah dikenal sejak 7 sampai 10 ribu tahun yang lalu,
telah dubudidayakan oleh bangsa Mesir yang mendiami lembah Sungai Nil bagian
hilir di Afrika, bangsa inca di Asia Timur, bangsa Asiria di lembah Sungai
Efrat dan Tigris di Timur Tengah, dan bangsa-bangsa Indian di Amerika Utara dan
Amerika Selatan. Mereka telah mengenal berbagai jenis tumbuhan yang merupakan
penghasil bahan pangan, bahan sandang, dan bahan obat, yang berarti sebenarnya
mereka pun telah menerapkan suatu sistem klasifikasi, dalam hal ini suatu
sistem klasifikasi yang didasarkan atas manfaat tumbuhan. Oleh karenanya pada
periode ini dinamakan Periode Sistem Manfaat, yang dianggap sebagai sistem
buatan yang tertua.
2.
Periode Sistem Habitus (± abad ke-4 SM – abad ke-17 M)
Pada
periode ini dikenalah ilmu taksonomi tumbuhan sebagai ilmu pengetahuan baru yang
dipelopori oleh orang-orang Yunani seperti Theophrastes (370 – 285 SM) murid
seorang filsuf yunani Aristoteles. Aristoteles sendiri murid seorang filsuf
yunani Plato. Theophrastes mengklasifikasian tumbuhan berdasarkan habitus
(perawakan). Sistem klasifikasi yang diusulkan bangsa yunani yang dipelopori
Theophrastes ini diikuti oleh kaum herbalis, dan ahli-ahli botani, dan nama itu
terus dipakai sampai selama lebih 10 abad.
Pengklasifikasian
tumbuhan berdasarkan habitus (perawakan), membagi tumbuhan ke dalam 5 golongan
yaitu pohon, perdu, semak, tumbuhan memanjat, dan terna. Theophrastes-lah yang
pertama mengelompokan tumbuhan menurut umur yaitu tumbuhan berumur pendek
(anual), tumbuhan berumur 2 tahun (bienial), dan tumbuhan berumur panjang
(perenial). Beberapa tokoh yang ikut memainkan peran dalam periode ini
antara lain yaitu Plinius (23 – 79 M), O.Brunfels (1464 – 1534 M), J. Bauhin
(1560 – 1624 M), R. Morison (1620 – 1683).
3.
Periode Sistem Numerik (± awal abad
ke-18 M)
Tidak
seperti pada periode sebelumnya dimana tumbuhan di klasifikasikan berdasarkan
bentuk dlan strukturnya, pada periode ini pengklasifikasian tumbuhan
berdasarkan hubungan kekerabatan antara tumbuhan. Pada periode ini
tokoh yang paling menonjol adalah Karl Linne (Carolus Linnaeus) (1707 – 1228
M). Dia menciptakan klasifikasi tumbuhan berdasarkan sistem seksual yaitu
berdasarkan kesamaan jumlah alat-alat kelamin, antara lain jumlah benang sari
seperti Monandria (berbenang sari tunggal), Diandria (berbenang sari dua)
Triandria (berbenang sari tiga) dan seterusnya. Itulah sebabnya sistem
klasifikasi tumbuhan ciptaan Linnaeus ini dikenal pula sebagai Sistem Numerik.
Linnaeus
juga dianggap sebagai pencipta sistem tata nama ganda dalam bukunya Species
Plantarum walaupun sebenarnya sistem tata nama ganda tersebut sudah rintis oleh
Casper Bauhin dalam bukunya Pinax Theatri Botanici. Tetapi karena mungkin
Linnaeus-lah yang pertama seara konsisten menggunakan nama ganda itu untuk
jenis tumbuhan dalam bukunya Species Plantarum tadi, nama Bauhin menjadi
tersisihkan. Beberapa tokoh-tokoh yang ikut berperan pada periode ini antara
lain Peter Kalm (1716 – 1779 M), J.A. Murray (1740 – 1791 M), J. Schultes (1773
– 1831 M).
4.
Periode sistem alam (± akhir abad ke-18 hingga
pertengahan abad ke-19)
Menjelang
berakhirnya abad ke-18 mulailah terjadi perubahan-perubahan yang revolusioner
dalam pengklasifikasian tumbuhan. Sistem klasifikasi yang baru ini disebut
“sistem alam” dalam arti bahwa golongan-golongan yang terbentuk merupakan
unit-unit yang wajar (natural) bila terdiri atas anggota-anggota itu, dan
dengan demikian dapat tercermin pengertian manusia mengenai yang disebut apa
yang dikehendaki oleh alam.
Secara
harfiah istilah “sistem alam” untuk aliran baru dalam klasifikasi ini
sebenarnya tidak begitu tepat, mengingat sistem yang manapun dengan menerapkan
dasar apapun, tetap merupakan ciptaan orang, sehingga pada hakekatnya semua
sistem klasifikasi adalah sistem buatan.
Beberapa tokoh yang berperan pada periode ini antara lain J.B. de Lamarck (1744 – 1829 M), orang yang menulis buku Flora Francoise yang ditulis berupa kunci untuk mengidentifikasi tumbuh-tumbuhan di Perancis. Lamarck juga dianggap sebagai salah satu perinti s lahirnya teori evolusi. Teorinya yang dikenal dengan nama “Lamarckisme”, yang menyatakan bahwa perubahan lingkungan dapat mengubah struktur organisme. Tokoh lain seperti Robert Brown (1773 – 1858 M), G. Bentham (1800 – 1884 M), J.D. Hooker (1917 – 1911 M).
Beberapa tokoh yang berperan pada periode ini antara lain J.B. de Lamarck (1744 – 1829 M), orang yang menulis buku Flora Francoise yang ditulis berupa kunci untuk mengidentifikasi tumbuh-tumbuhan di Perancis. Lamarck juga dianggap sebagai salah satu perinti s lahirnya teori evolusi. Teorinya yang dikenal dengan nama “Lamarckisme”, yang menyatakan bahwa perubahan lingkungan dapat mengubah struktur organisme. Tokoh lain seperti Robert Brown (1773 – 1858 M), G. Bentham (1800 – 1884 M), J.D. Hooker (1917 – 1911 M).
5.
Periode sistem filogenetik (pertengahan abad ke-19 hingga
sekarang)
Sistem
klasifikasi dalam periode ini berupaya untuk mengadakan penggolongan tumbuhan
yang sekaligus juga menerminkan urutan-urutan golongan itu dalam sejarah
perkembangan filogenetiknya dan dengan demikian juga menunjukkan jauh dekatnya
hubungan kekarabatan antara golongan yang satu dengan yang lain. Jadi dalam
klasifikasi ini dasar yang digunakan adalah “filogeni” dan dari sini lahirlah
nama “sistem filogenetik”. Beberapa ahli taksonomi tumbuhan yang berperan pada
periode ini antara lain, Alexander Braun (1805 – 1877 M), A.W. Eihler (1839 –
1887 M), Adolph Engler (1844 – 1930 M), C.E. Bessey (1845 – 1915 M).
6.
Periode sistem klasifikasi kontemporer (abad ke-20)
Kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat dalam abad ke-20 telah berpengaruh
terhadap perkembangan ilmu taksonomi tumbuhan. Kecenderungan untuk
mengkuantitatifkan data penelitian dan penerapan matematika dalam pengolahan
data yang diperoleh telah menyusup pula ke dalam ilmu-ilmu social yang semula
tak pernah atau belum memanfaatkan matematika serta belum mempertimbangkan pula
kemungkinan-kemungkinan yang dapat dicapai dengan penerapan pendekatan
kuantitatif matematik. Sekarang ada kecenderungan untuk menganggap bahwa
penerapan metode kuantitatif sajalah yang dapat menjamin hasil penelitian yang
cermat dan dapat diperaya.
Perkembangan
teknologi, khususnya di bidang elektronika, yang dalam abad nuklear maju dengan
pesat ini, telah pula menjamah bidang taksonomi tumbuhan, yang sejak beberapa
dasawarsa belakangan ini juga sudah menerapkan metode penelitian kuantitatif
yang pengolahan datanya menggunakan komputer. Dari sinilah melahirkan bidang
baru dalam taksonomi tumbuhan yang dikenal sebagai taksonomi numerik,
taksometri, atau taksonometri. Pengolahan data secara elektronik juga sudah
diterapkan untuk berbagai prosedur dalam penelitian taksonomi.
Taksonomi numerik (dalam arti bukan yang diteorikan oleh Linnaeus) didefinisikan sebagai metode evaluasi kuantitatif mengenai kesamaan atau kemiripan sifat antar golongan organisme, dan penataan golongan-golongan itu melalui suatu analisis yang dikenal sebagai ”analisis kelompok” ke dalam kategori takson yang lebih tinggi atas dasar kesamaan-kesamaan tadi. Peranan komputer adalah untuk mengerjakan perbandingan kuantitatif antara organisme mengenai sejumlah besar ciri-ciri secara simultan. Jadi komputer itu mengambil alih tugas kita dalam melakukan hitungan-hitungan dengan sangat cepat dan tanpa prasangka.
Taksonomi numerik didasarkan atas bukti-bukti fenetik, artinya didasarkan atas kemiripan yang diperlihatkan obyek studi yang diamati dan dicatat, dan bukan atas dasar kemungkinan-kemungkinan perkembangan filogenetiknya. Kegiatan-kegiatan dalam taksonomi numerik bersifat empirik operasional, dan data serta kesimpulannya selalu dapat diuji kembali melalui observasi dan eksperimen.
Taksonomi numerik (dalam arti bukan yang diteorikan oleh Linnaeus) didefinisikan sebagai metode evaluasi kuantitatif mengenai kesamaan atau kemiripan sifat antar golongan organisme, dan penataan golongan-golongan itu melalui suatu analisis yang dikenal sebagai ”analisis kelompok” ke dalam kategori takson yang lebih tinggi atas dasar kesamaan-kesamaan tadi. Peranan komputer adalah untuk mengerjakan perbandingan kuantitatif antara organisme mengenai sejumlah besar ciri-ciri secara simultan. Jadi komputer itu mengambil alih tugas kita dalam melakukan hitungan-hitungan dengan sangat cepat dan tanpa prasangka.
Taksonomi numerik didasarkan atas bukti-bukti fenetik, artinya didasarkan atas kemiripan yang diperlihatkan obyek studi yang diamati dan dicatat, dan bukan atas dasar kemungkinan-kemungkinan perkembangan filogenetiknya. Kegiatan-kegiatan dalam taksonomi numerik bersifat empirik operasional, dan data serta kesimpulannya selalu dapat diuji kembali melalui observasi dan eksperimen.
KESIMPULAN
Klasifikasi adalah penempatan sebuah
kata atau objek tertentu. Klasifikasi tumbuhan merupakan cara untuk memudahkan
dalam mengenali dan mempelajari keanekaragaman tumbuhan. Suatu konsep perbandingan, seperti
lebih panas atau lebih dingin, mengemukakan hubungan mengenai objek tersebut
dalam norma yang mencakup pengertian lebih atau kurang. Kita tidak boleh
mengecilkan kegunaan konsep klasifikasi terutama pada bidang-bidang dimana
metode keilmuwan dan metode kuantitatif belum berkembang.
Klasifikasi juga dapat berarti usaha
menggolong-golongkan segala fase kegiatan dalam sebuah usaha. Dalam pengertian
yang lebih sempit maka klasifikasi meliputi usaha mengkategorikan bahan-bahan
yang dipakai dalam proses produksi. Adapun alasan orang melakukan klasifikasi
ialah agar supaya diketahui dengan pasti fase mana dari kegiatan masuk dalam
golongannya, sedang fase lain masuk dalam golongan lain. Disadari orang bahwa
klasifikasi itu sangat membantu kelancaran jalannya sebuah usaha atau kegiatan
apapun dan memudahkan atau meringankan pekerjaan, baik pelaksana maupun pemberi
instruksi.
Dimana sistem klasifikasi tumbuhan tanpa disadari
sudah ada sejak jaman prasejarah mulai dari cara yang sangat sedehana dengan memilah
antara tumbuhan yang berguna dan tidak. Pasa abad ke-4 SM hingga abad ke-17
mulai dikenal ilmu taksonomi tumbuhan yang dipelopori orang Yunani yang
didasarkan pada habitus (perawakan). Pada awal abad ke-18 tumbuhan mulai
diklasifikasikan berdasarkan hubungan kekerabatan antara tumbuhan.
DAFTAR
PUSTAKA
Aiqla
elyan. 2014. Sejarah Klasifikasi. Diakses
pada 10 Februari 2017-02-12 http://aiqla-elyan07.blogspot.co.id/2014/03/sejarah-klasifikasi.html
Andri
Satolom. 2012. Sejarah Perkembangan Klasifikasi Makhluk Hidup. Diakses pada 11
Februari 2017 http://scienceandri.blogspot.co.id/2012/11/sejarah-perkembangan-klasifikasi.html
Dedi
Supriyadi. 2010. Sejarah Klasifikasi. Diakses pada 10 Februari 2017 http://dedispd.blogspot.co.id/2010/06/sejarah-klasifikasi.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar